| Laporan Yoga Gembira 11 April 2009 |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Monday, 13 April 2009 00:00 |
|
There are no translations available. Yoga, Memberi, Komentar Pikiran, dan Meditasi Teman-teman Yang Bergembira, Jika saja di atas kepala kita ada loud speaker, kata Guido, yang menyuarakan pikiran kita sendiri, sudah dapat dipastikan, loud speaker itu akan ramai berbunyi hampir tiada henti. Bagaimana cara menghentikan suaran di loud speaker di kapala itu? Adalah dengan berlatih meditasi. Mulailah dengan mengamati keluar-masuknya nafas. Bagaimana pula posisi ketika bermeditasi? Tidak harus duduk bersila dengan tangan posisi mudra, tenang tafakur, tapi bisa juga dalam postur Petrukasana, posisi seperti Petruk, si Punakawan itu, asal dilakukan dengan penuh perhatian. Latihan ini akan membawa pada pencerahan, pandangan terang, tidak ilusif, yang dalam tradisi meditasi dikenal dengan vipassana, yang diyakini, merupakan nilai tertinggi dalam jalan spiritual. Setelah vipassana, berikutnya adalah meditasi tongleng, yaitu meditasi Terima Kasih, seperti yang telah dibicarakan (dan icip2 dipraktekkan) minggu lalu. “mengambil” semua penderitaan orang lain, dan kemudian memberi yang terbaik yang kita punya. Konsep ini terdengar sangat absurd, tapi menurut Guido, ini ada terkandung praktek ketulusan yang dalam kehidupan sehari-hari, di jaman sekarang, semakin sulit ditemukan. Challenge-nya adalah, apakah kita mau merubah ke kehidupan yang lebih baik, masa kita hidup begini-begini aja dari ahri ke hari? rutin: bangun tidur, kerja, pulang, dan tidur (istilah orang Perancis MBD, metro, bulo, dodo/naik metro, kerja, tidur). Kita perlu memutus lingkaran setan kesengsaraan ini. Semua nilai yang terkandung dalam meditasi, juga filosofi yoga bisa juga termanifestasi dalam kehidupan kita sehari-hari: dalam hidup bermasyarakat, dalam relasi dengan pacar, suami-istri, juga dalam kita berbisnis. Dengan meletakkan keutamaan “memberi” (dengan tukus), selain secara spiritual meningkat, kita pun akan mendapatkan kelebihan lainnya, teman, persaudaraan, juga karir, dan keuangan. Perlunya generousity, keutamaan memberi diualangi lagi seperti topik-tapik sebelumnya. Memberi dengan tulus. Yang akhirnya, kalau ini dikembangkan, seperti menanam benih unggul yang kelak akan memetik buah yang bagus. Tapi, kata kunci semua itu hanya tiga kata, yaitu: latihan, latihan, dan latihan. Jadi tetap rajinlah berlatih. Sebelumnya peserta Yoga Gembira mendapat berita yang sedikit kurang menyenangkan, yudhi mendapat SP 1 (surat peringatan) dari pihak tuan rumah, House of Peace, bahwa sesungguhnya, kalau acara setelah yoga dan makan ringan mau ditambah dengan sharing dari Guido, untuk Guido ada harganya sendiri, yaitu Rp 50,000 yang dipergunakan untuk membeli makan di restauran di situ. Jadi image yoga gembira sebagai yoga paling murah di Jakarta (?) akan tidak berlaku lagi. Yudhi berpikir untuk mencari tempat berlatih selain di House of Peace, dia juga tidak mau diclaim bahwa acara Yoga Gembira itu adalah bagian dari kegiatan House of Peace. Guido sendiri sih, sebetulnya gak dikasih honor sharing itu gak masalah. Dia juga bilang bahwa dia bukan bagian HoP. Jadi nampaknya, perlu teman-teman peserta pikirkan bersama untuk mengurai masalah ini. Dan karena ini negeri demokrasi, perlu dibicarakan, didiskusiin bersama dengan tetap dalam koridor: Beryoga, Bergembira, Berilmu, dan Beramal… Laporan Keuangan Pendapatan 12 x Rp 50.000 (dewasa) Rp 600.000,- 0 x Rp 25.000 (anak-anak) 0,- ========= Rp 600.000,- Pengeluaran (snack+minum) Rp 250.000,- * ke House of Peace ========= Rp 350.000,- Nombokin Makan Rp 150.000,- ke House of Peace ========= Sisa Rp 200.000,- Dibagi rata ke Guido Rp. 100.000,- ========= Jatah yudhi Rp 100.000,- 20% (good karma peserta) 20.000,- * ke Kas Social Yoga Club *) ========= Buah Karma Yudhi Rp 80.000,- (alhamdulillah wasyukurillah….haleluyah… hahahah…) |