| Parodi Yoga | | Print | |
| Written by Administrator |
| Wednesday, 18 March 2009 16:30 |
|
There are no translations available. Pengantar Anda tahu kawan, filsuf yang paling hebat di Jakarta ini (minimal menurut yudhi) bukan Prof Dr Franz Magnis Suseno SJ, Prof Alex Lanur MFO, Dr Muji Sutrisno SJ, atau Prof Dr Tuti Herati, Prof Dr Suryanto, apalagi Margaretha MHum atau Dian Sastrowardoyo dari mazab Depok. Dan si filsuf tersebut ternyata bukan berpendidikan filsafat, tapi dia malah pernah bersekolah mode di Paris, sesuatu yang sering dicemooh rendah oleh para peminat filsafat sosial budaya, sebagai pembawa budaya pop, seni rendah, sumber dekadensi moral, dan sebagainya. Si filsuf itu adalah Samuel Mulia, penulis kolom Kompas Minggu yang sering memperkenalkan dirinya sebagai pengamat mode dan gaya hidup. Topik yang dia tulis selalu aktual, dekat dengan kehidupan sehari-hari warga kota dan disampaikan dengan bahasa yang bernas. Walaupun diksi atau pilihan katanya sering menggunakan kosa kata yang seperti bercanda dan penuh “penyamaran”, artinya dia sangat lincah memainkan kata, dia bisa leluasa masuk-keluar berganti peran, termasuk juga mengaburkan pembaca awam akan orientasi sexnya, namun kalau dicermati, khusunya kalau sedang melakukan kritik, sesungguhnya kritiknya sangat menghujam. Samuel bekerja bak aparat KPK, komite pengkritik kelakuan. Tapi yang paling menarik, dia sering menggunakan dirinya sendiri sebagai obyek olokannya. Artinya ada kejujuran pada diri sendiri, termasuk untuk mentertawai diri sendiri atas perilaku kontradiktif pada perbuatan dan kata-katanya sendiri. “Ghene hare cari orang jujur ame diri sendiri suesahhh bo…bisa–bisa KPK tutup en matiin bisnisnya pengacara dunk”, begitu kata saya meniru selipan ungkapan kalimat yang sering dia comot dari bahasa khas anak jaman sekarang. Dan karena kekaguman saya pada Samuel itu, saya akan dengan terang2an mengaku menjadi plagiat tulisannya, sebagai tribute to Samuel. Dan ini salah satunya… (Duh yudh… loe bikin kata pengantar segala, kaya Radhar Panca Dahana kasih pengnatar ke rubrik Humaniora atau Teroka di Kompas…sok ke Radhar-radhar-an loe ah…) Mendadak Yoga oleh Yudhi Widdyantoro Sejak awal bulan puasa ini, setiap kali aku naik motor sore-sore dari rumah ke jalan raya Pramuka yang berjarak satu kilometer, di sepanjang jalan kampung padat itu, kiri-kanan jalan, di hampir setiap 10 m, banyak orang membuka lapak pinggir jalan menjual makanan khas untuk berbuka puasa: kolak, pacar cina, arem-arem dan gorengan, atau juga es buah, es kelapa muda. Banyak orang seperti mendadak menjadi pengusaha, walapun dalam skala kecil. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang akan membeli panganan-panganan itu kalau pasarnya sudah demikian jenuh, bahkan cenderung over supply. Belum lagi banyak ibu-ibu di rumah, seperti ibuku yang serba mau irit, membikin sendiri ta’jil untuk sekadar menyegerakan berbuka puasa, yang tak jarang makanan pembukanya persis sama dengan yang dijual orang-orang di pinggir jalan itu. Selain urusan makanan, banyak orang ketika berbicara menjadi lebih santun, kalem, tak jarang dalam pembicaraan menyelipkan kosa kata bahasa arab, mengutib kitab suci, serta berpenampilan ke-timur tengah-timur tengahan. Mereka mendadak jadi religius. Dalam dunia yoga, kejadiannya hampir sama. Sejak yoga menjadi semakin populer di Jakarta ini, mulai sekitar empat tahun yang lalu, dari hanya satu, Rumah Yoga sebagai studio yoga yang pertama, kemudian bermunculan studio baru, dan kecenderungannya akan semakin meningkat. Banyak orang mengajak aku untuk involve atau membantu mendirikan yoga center. Ada yang, kalau diumpamakan orang pacaran, tidak soal diduakan kalau aku membagi waktu, bergilir antara Rumah Yoga dan calon studio itu. Tapi ada yang menuntut komitmenku, meminta aku bercerai dari Rumah Yoga dan mencurahkan sepenuhnya “jiwa ragaku” pada studio yang satu itu. Persis seperti selingkuhan yang sedang dapat angin untuk lebih memiliki lelaki dambaan. Ada juga yang malu-malu tapi mau, merasa tidak enak dengan istri resmi, yang penting aku tetap ada waktu menyambanginya, padahal ada juga antara istri resmi dan selingkuhan sering bertemu, saling senyum sambil menjaga rahasia masing2 kisah ranjangnya dengan yudhi (maksudnya yoga gheto loh…), aku pun senyum-senyum merasa bisa menipu kedua belah pihak… Aku jadi bertanya, siapa yang akan datang beryoga ke studio-studio yoga ini lha wong yang suka beryoga, orang-orangnya itu-itu saja… Waktu diwawancarai Jakarta Post (lihat Jakarta Post 24 February 2008) aku dan David Moreno kasih komentar fenomena perkembangan yoga di Jakarta akhir-akhir ini kalau unsur spiritualitas yoga telah hilang, bahkan yang lebih menonjol adalah melulu olah fisik, latihan postur-postur atau asanas doang dan juga bisnis. Wartawatinya kasih judul artikel itu :”Spiritual center of yoga is being lost: yogi”. Memang sekarang yoga menjadi trend gaya hidup yang sedang hot. Ada semacam menjadi penanda suatu kelas tertentu (yang elitis), selalu mengikuti perkembangan gaya hidup mondial, selain dapat anggapan bahwa mereka yang beryoga concern pada kehidupan spiritual, untuk tidak dikatakan rakus material. Transisi orang yang suka beryoga di Jakarta umumnya setelah lebih dulu suka berolah raga high impact macam aerobic, body language, taebo atau bahkan body building di fitness center atau gym. Istilah nge-gym biasanya berarti ikut kegiatan riuh-rame seperti itu. (aku mau coba mempopulerkan istilah nge-yoga kok kayaknya dipaksain bener yee, kagak enak, garing boo). Setelah yoga menjadi booming, merambah kemana-mana, hampir di semua fitness center dibuka juga kelas-kelas yoga yang biasanya dimasuki unsur-unsur olah raga khas gym itu. Umumnya orang-orang yang datang ke gym adalah kaum muda urban yang sangat peduli dengan penampilan. Mereka-meraka inilah yang sekarang rajin merambahi studio-studio yoga di Jakarta, bukan hanya di fitness center biasa mereka berlatih. Pengajar maupun pelatih yoga sekarang cenderung memuda usianya. Jadi adalah salah besar kalau yoga diidentikkan dengan dunia klenik mirip dukun milik kakek-nenek dengan penampilan busuk dan lusuh. Yang datang ke studio yoga tak ubahnya pelanggan salon dan butik, sangat peduli dengan penampilan dan merek, berwajah permai dan harum baunya. Kaos berlatih, tas dan matras yoga yang ditenteng-tenteng berharga ratusan ribu, bahkan jutaan, sementara harga tempe goreng masih Rp 500,-. Di Jakarta, selain perilaku orang yang punya uang yang berlomba ingin membangun studio yoga dan kegairahan masyarakat urban muda ingin menguruskan badan lewat yoga, rupanya kita menyaksikan bahwa kita hidup di jaman orang mendadak beryoga. Atas perilaku orang-orang Jakarta beryoga seperti itu, aku pernah membuat tulisan iseng-iseng “Anatomi Yoga Center di Jakarta”. Pada tulisan itu aku cukup memberi perhatian lebih pada gejala mistifikasi yoga dan ekonomisasi kegiatan spiritual ini dengan memakai kacamata seorang Marxist. Kawan perempuanku mengomentari: “Kok Marxist sih mas, serem amat…”. “Orang yang pernah belajar sejarah pemikiran, pastilah melewati sejarah sosial Jerman, belajar Marxismus”, jawabku sedikit diserius-seriusin. “Dalam taraf tertentu aku seorang sosialis”, tambahku sedikit menyombong. “Ach, gak ngerti ah, kok ngomong spiritual dibawa ke ideologi… Tapi, mas yudhi yang mengkritik kapitalis, sekarang ikut-ikut membisnisin yoga, ndiriin Sahaja Yoga, menjual kaos dan perlengkapan yoga, apa enggak muna tuh, munafik, ngakunya aja sosialis…sipilis iya kali”, sanggah kawan itu. “Yaa, ghene hare, lagi pade susah-susahnye cari kerja, ada kesempetan dapet duit kagak loe ambil… hmmm mikir deh loe pada…, dapet Rp 20.000, sekali lagi duapuluh rebu aja orang berani njabanin taroan ama nyawanye kaya di Pasuruan”, jawabku mencoba menenangkan. “Dengan berbisnis kan mas jadi kapitalis, muna lagi loe mas ah”, kata kawanku kesal, “Yaa kapitalis sebatas di perut aja lah, tapi dada gue kan humanis, penuh cinta kasih, dan kepala tetep sosialis. Yang penting kaki kagak jadi fasis, tiran, buat nginjek-nginjek orang..”, “Tapi mas yudhi, katanya yogi kan ada brahmacharya, selibat, tapi mas pernah pacaran sama cewe-cewe itu, dan masih mau kawin”, “C’mon, yogi juga manusia man….”. “Eit, sebentar, tadi bilang cewe-cewe, berarti pacarannya bukan cuma sekali, kalo gitu, di bawah pusar liberalis doong…”, “Hehe…untuk yang satu ini, boleh dong gue nggak komentar….?” Bersama seorang kawanku sesama pengajar yoga, aku medirikan Sahaja Yoga, sebagai wadah bagi orang-orang yang tidak mau dipusingkan oleh macam-macam aliran dalam yoga yang oleh para pengikutnya masing-masing diclaim sebagi yang paling baik, belum lagi persaingan rebut pengaruh, saling menjelekkan diantara mereka sesama pengajar. Bahkan ada pengajar yoga dan juga pemilik studio yang memperlakkan yoga sebagai mesin pencetak uang ala bisnis franchising, ingin selalu lebih besar menggurita yang setiap tentakelnya sibuk mencari berbagai kemungkinan untuk dibisniskan. Atas gejala-gejala seperti itu aku prihatin, yang kutuangkan dalam tulisan anatomi yoga center itu, dan mencoba mengkoreksi dengan membangun wadah Sahaja Yoga. Sahaja, maksudnya ya seperti kata saja, doang karena kami tidak mau ikut pandangan banyak orang yang terframentasi atas aliran atau style yang ada dalam Hatha Yoga. Semula kami mau menamai Yoga Doang sebagai line business atau merek dagang kami, tapi takut juga nanti disue sama Dik Doang yang sudah kondang. Dimaksudkan sebagai antitesa, atau bahkan sintesa cara orang banyak menyikapi aliran-aliran yang ada, dan kemudian mengikuti dengan memakai kaca mata kuda. Ada temen yang mengingatkan: “Jangan-jangan mas, nanti kaya dulu di Jerman, orang-orang Aufklaerung, pencerahan modernisme, yang mengkritik theosentrisme, sebagai filsuf yang jadi budak agama, tidak rasional, eh akhirnya malah kebablasan ingin menguasai dunia, ego manusia yang berlebihan, yang jadi pemicu perang dunia dan kerusakan ekologi. Walaupun mas yudhi gak bermaksud mau jadi fondasion, gak suka atau anti aliran-aliran, apapun akan jadi fondasion juga, kaya waktu orang-orang Perancis seperti Jaques Derrida, Michel Foucault yang memperkenalkan filsafat postmodernisme yang mengkritik modernisme, itu juga fondasi lagi, aliran sendiri….”. “Bener juga loe”, kataku membenarkan argumennya, sambil sebenarnya sedikit merasa kalah debat, tapi kemudian aku berujar seperti iklan rokok, yang bagus, walaupun aku tidak suka merokok: ”Yaaa yang penting latian yoga aja lah, enjoy aja…” yudhi widdyantoro Pengecer jasa yoga Kilas Parodi 10 Perintah Yogi 1. Sebelum mulai berlatih yoga, perbanyak referensi, minimal baca artikel di tabloid Gaya Hidup Sehat, khususnya yang :”Yoga Bukan Hanya Asana” 2. Jangan terlalu peduli sama yang namanya aliran atau style, yang penting berlatih dan berlatih, kalao perlu manggil guru privat. 3. Berlatih yoga gak terlalu peting pake kaos mahal, bermerek terkenal 4. Perlu kasih tahu ke instruktur praoblem, atau kalau punya sakit, temasuk masalah pribadi, juga cinta, untuk dikonsultasikan ke instruktur, mungkin latihan yoga akan lebih membantu…(hehe..) 5. Pelatih-pelatih yoga di Jakarta itu juga manusia, jadi jangan anggep mereka sakti mandraguna kaya orang suci kagak mati-mati. 6. sampai perintah nomer 10 masih dikarang, jadi menyusul ya…okey? |