|
Social Yoga Club J a k a r t a A Club for Young at Heart Independen – Terbuka – Toleran - Kultural Perkembangan kehidupan di kota metropolitan Jakarta ini seperti rumah berlantai dua, dengan satu lantainya berada di bawah tanah. Bangunan yang nampak di permukaan akan jelas terlihat: gemerlap dan terawat dengan detailnya, sementara ruang-ruang yang berada di lantai bawah nampak suram dan gelap, nyaris tidak terurus dan kurang mendapat perhatian. Pembangunan fisik: kompleks perumahan, apartemen, pusat perbelanjaan dan hiburan, dan juga tempat ibadah saling berkejaran memenuhi langit ibu kota. Itulah perumpamaan sebuah bangunan rumah yang ada di atas permukaan tanah. Sementara pembangunan di bidang sosial-kemasyarakatan masih menyisakan sisi gelap.
Sering kita saksikan perselisihan antar-warga yang disertai dengan tindak kekerasan. Perbedaan yang mencolok antara sebagian masyarakat yang hidup mewah berlebih dengan yang mengais-ngais untuk sekadar dapat bertahan hidup di tengah krisis finansial adalah pemandangan yang tidak bisa dielakkan. Sikap serakah dan mementingkan diri sendiri masih menguasai hati sebagian besar warga kota yang katanya sebagai barometer negeri. Ditambah dengan adanya pihak tertentu yang ingin memaksakan nilai kebenaran menurut versinya, belum lagi semakin sulitnya akses untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan, polusi serta kemacetan jalan raya yang semakin parah menambah runyam hidup di Jakarta ini. Ruang publik bagi warga kota yang dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keakraban antar-warga menjadi semakin sedikit dan sesak.
Banyak usaha dalam memberi sarana dan aktivitas yang telah dilakukan baik oleh pemerintah daerah maupun swasta untuk memberi kesejahteraan warga kota, antara lain dengan mengikuti pelatihan yoga yang diyakini dapat memberi hidup lebih sehat lahir batin bagi yang mempraktikkanya. Sehat bagi tubuh fisik, maupun sehat secara psikis, mental dan spiritual. Mempelajari teknik yoga akan mengekplorasi diri sendiri, sehingga dapat memaksimalkan segenap potensi di dalam diri yang belum dikenali. Berlatih yoga akan membebaskan dari berbagai tekanan: dari ketegangan dan kelelahan, pikiran negatif atau tindak kekerasan. Rangkaian latihannya dapat meningkatkan energi, konsentrasi dan memori, mempertebal keyakinan dan kepekaan diri, serta menyejahterakan hidup, baik tubuh maupun pikiran.
Dengan cara yang bersahaja, yoga telah berevolusi lebih dari 3000 tahun yang lalu, dan menyebar ke segala penjuru dunia, bukan hanya sebatas negeri asalnya, India. Seiring dengan perjalanan waktu, banyak orang sudah merasakan manfaat dari mempraktikkan yoga ini. Dalam perkembangan selanjutnya, di jaman modern ini, yoga mendapatkan bentuk dan kemasan yang lebih canggih sehingga menimbulkan kesan bahwa yoga telah menjadi aktivitas yang ekslusif dan hanya kalangan berpunya yang bisa mengikutinya.
Perkembangan di sisi lain dari yoga ini adalah berkembangnya fanatisme pada tradisi dan aliran dalam yoga yang diikuti oleh pengikutnya. Ada sebentuk kultus pada suatu tradisi dan individu yang ditiupkan oleh guru yang dibalik itu ada terkandung suatu kepentingan dan motif tertentu yang bersumber pada ego pribadi. Cara pandang pada kesakralan yoga yang berkembang dari interpretasi guru di jaman mederen ini yang bisa menimbulkan kecurigaan otoritas agama tertentu sehingga melarang ummatnya ikut berlatih yoga. Adanya larangan ini telah membuat hubungan persaudaraan diantara praktisi yoga merenggang, dan berdampak negatif pada yoga secara global, antara lain keengganan masyarakat untuk datang berlatih yoga.
Ide berdirinya klub ini adalah agar menghilangkan kesan yoga sebagai kegiatan ekslusif dan menakutkan. Dan bahwa peyelenggaraan pelatihan yoga dapat dibuat dengan penuh suka cita, bahkan dapat meningkatkan rasa persaudaraan diantara warga kota, merayakan kebersamaan, kebhinekaan, serta memupuk kesetiakawanan sosial. Social Yoga Club Jakarta ini bukanlah organisasi yang rigid dengan hirarki yang ketat. Klub ini hanyalah kumpulan individu-individu yang hanya ingin ikut berlatih yoga tanpa mau terseret dalam politik peryogaan. Individu-individu yang ingin mendapatkan nilai lebih kebahagiaan hidup lewat praktik berlatih yoga, yang ingin turut berpartisipasi membuat kehidupan warga kota Jakarta lebih berkualitas.
Yang telah rutin kami lakukan adalah membuat Yoga Gembira, seminggu sekali setiap akhir pekan. Suatu pelatihan yoga dengan biaya relatif terjangkau di tempat-tempat yang lebih mendekatkan pada warga kota tinggal. Setiap kali penyelenggaraannya dilakukan dengan musyawarah secara terbuka dan kekeluargaan, lebih mirip rekreasi keluarga. Untuk mencegah pengkultusan pada guru dan membawa kesesatan pada suatu aliran, peran pelatih diminimalisir hanya sebatas melatih. Tidak ada ilmu dan pengetahuan yang ditutupi, semuanya dapat dicarikan referensinya, seperti kata Karl Popper, seorang ahli matematika dan fisika dari Austria yang juga seorang filsuf, bahwa ilmu yang baik adalah kalau bisa diverifikasi dan ada ruang untuk melakukan koreksi. Di klub ini tidak ada kekuatan supranatural yang dipraktikkan. Ilmu dan pengetahuan dari pelatih semua bisa dicarikan referensinya. Kami juga mengundang pembicara dari disiplin di luar yoga yang komplementer bagi yoga untuk membagi ilmu dan pengetahuannya (sharing). Selain itu, 20 % dari saweran peserta akan disumbangkan untuk biaya kesehatan dan pendidikan anak-anak yang tidak mampu. Jadi prinsip kami: Beryoga, Bergembira, Berilmu dan Beramal.
Social Yoga Club Jakarta secara sederhana merumuskan landasan kegiatannya sebagai:
Independen: tidak berafiliasi pada suatu ideologi, partai, agama, individu, kelompok atau aliran apapun. Pembiayaan kegiatan berasal dari dana sendiri.
Terbuka : semua kegiatan dibuat sedemokratis mungkin, musyawarah untuk tujuan kemufakatan bersama. Tidak menutup untuk menerima ide dan masukan dari anggota atau pihak manapun sesuai perkembangan kemajuan.
Toleran : munjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam kebhinekaan. Menghormati hak setiap individu walaupun berbeda.
Kultural : membumikan yoga ke dalam iklim keindonesiaan. Menghormati dan memakai keragaman budaya Indonesia dalam pelaksanaan kegiatannya.
|